Dibalik Tabir Hantu Molokoimbu

BAGI orang asli Luwuk rasanya tak asing lagi jika mendengar kata Molokoimbu,

sebab tidak sedikit dari mereka yang masih terkooptasi dengan adanya cerita misteri tentang keberadaan hantu amfibi darat dan laut tersebut.
Konon katanya hantu ini secara umum mendiami daratan dan perairan laut Banggai, Bangkep, Balut. Hanya saja memang disetiap daerah itu ada perbedaan julukan terhadap hantu ini.
Jika di Luwuk Ibukota Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah, namanya lebih dikenal warga dengan sebutan Molokoimbu.
” So setan ini yang kalu baku dapat di laut biasa ba kase malomos orang”, ujar Salim (60) dengan dialeg khasnya.
Sumber ini adalah salah seorang warga yang berprofesi sebagai nelayan dan berdiam dipesisir pantai Luwuk.
Menurut dia, wilayah teretorial hantu ini mencakupi daratan hutan dan pesisir pantai hingga perairan laut dalam. Jika hantu tersebut mencelakai orang tentu tidak pandang bulu.
Sekalipun korbanya hanya mandi dipinggiran pantai, kalau bertepatan bertemu dan menjadi targetnya, secara tiba-tiba korban akan di sedot ke dasar laut dalam dan menghilang. Kalau di hutan korbanya akan disesatkan dan disembunyikan pada tempat tertentu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain dengan pandangan normal. Hanya orang tertentu saja yang punya kelebihan panca indra ke enam dan memahami syarat-syarat tertentu, yang bisa meberobos ruang mistik bernuansa horor itu.
” Ada banyak kan di luwuk kejadian orang yang mandi di laut, kon tiba-tiba ilang tanggalam, biasa yang bagini nanti di dapat kalu so dibikin akan depe syarat-syarat”, terang sumber meyakinkan.
Itu sama halnya dengan kapal yang tiba-tiba tenggelam atau menghilang, baik itu jenis perahu motor berbobot kecil maupun besar. Oleh sebagian warga setempat sering mengkaitkan hal itu dengan ceritra pengaruh gangguan hantu Molokoimbu.
” Saya deng taman pernah baku dapat deng itu barang, waktu itu torang sementara mangael,” ungkap Salim.
Saat melaut mereka sempat tenggelam karena perahu yang ditumpangi tiba-tiba terangkat, kemudian dihempaskan ke laut dengan posisi tengkurap sehingga mereka jatuh tercebur.
” Waktu torang cilaka itu, boleh dibilang aneh tapi nyata, soalnya posisi laut tidak ba omba, cuma memang arus aer mulai dapat rasa kancang, tapi kalu kejadian ba arus bagitu so biasa torang dapat. Cuma yang bikin heran waktu kejadian sempat dapat liat dari dalam aer di bawah paraunya torang, muncul bayangan itam basar sampe so dapat liat galap dipinggir-pinggir parao, bagitu bayangan itam itu so dekat, tiba-tiba torang peparau langsung ta angkat kon macam ada dibanting kase taguling,” beber Salim.
Sekalipun demikian karena ajal belum berpihak, sehingga Salim dan rekanya itu masih selamat dari ancaman maut saat ditenggelamkan.
” Nga bayangkan saja, saya deng itu taman so tapisah jaoh deng torang pe parao yang so tabale”, bebernya.
Hanya saja saat kejadian keduanya tidak sampai hilang kesadaran, sehingga konsentrasi untuk menyelamatkan diri dengan cara berenang mengejar perahu yang sudah terbalik itu, terus diupayakan dan kemudian mereka membalikannya pada posisi semula hingga perahu bisa kembali ditumpangi.
“Untungnya depe mesin te talapas. Posisinya masih tetap tapasang kuat sama depe tampat, baru bagitu di stater langsung babunyi” jelas Salim.
Makanya saat itu mereka dengan spontan segera bergegas menghindar dari lokasi musibah.
“Biar torang so bajalan tapi itu bayangan itam di dalam laut tetap masih baikot, untung ada dapat ingat pesanya orang tua-tua dulu kalu baku temu deng barang alus bagitu, jadi tinggal sa baca depe doa syarat kon toki tiga kali itu bodinya parao.
Makanya waktu saya bikin bagitu, bayangan itam basar dari dasar laut tadi langsung bailang,” imbuh Salim.
Menurut dia kalau mendengar cerita para tetua terdahulu, kejadian yang dialami mereka merupakan bagian dari sinyalemen kuat ganguan hantu yang disebut Molokoimbo.
“Mo percaya deng tidak ini kejadian, tinggal tergantung masing-masing orang yang menilainya,” demikian sumber.**

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button