Jekak Srikandi di Ladang Gas

0
215

MEMULAI- dengan kiat kecil yang bermanfaat untuk keasrian lingkungan, sudah merupakan rutinitas keseharian sosok Herbalis asal Desa Sinorang, Ibu Mariana. Tak heran jika wanita paru baya di Kecamatan Batui Selatan ini, merupakan salah satu dari tiga srikandi yang dijuluki warga setempat sebagai perempuan pemerhati lingkungan di areal gas. Mengapa tidak, label tersebut didasari karena Ibu Mariana ini memiliki keahlian tersendiri dalam memanfaatkan dan melestarikan tumbu-tumbuhan berkhasiat yang ada di lingkungannya. 

(Foto : Ibu Mariana tengah melakukan aktifitas keseharianya)

” Saya memang hobi melestarikan tumbu-tumbuhan bermanfaat dilingkungan rumah, jadi untuk kiat herbalis ini sudah merupakan hobi saya dari dulu”, katanya.

Menurutnya, dia adalah orang pertama yang dibina JOB Tomori, “waktu itu saya belajar digabungkan dengan kelompok binaan yang ada di Morowali”, ujarnya.
Saat itu program JOB Tomori belum berjalan di Sinorang, namun besar harapanya untuk bisa ikut belajar meracik obat-obatan herbal di Morowali, sekakipun itu ia sedikit memaksa salah seorang kenalanya dari pihak tim pemberdayaan JOB Tomori agar dapat mengikutkan belajar herbalis disana.
“Waktu itu saya siap sekalipun dengan dana sendiri yang penting bisa diikutkan kenalan saya di JOB Tomori untuk belajar disana”, tuturnya.
Mungkin karena pertimbangan keseriusan sehingga sekalipun bukan mekanisme, akhirnya Ibu Mariana diikutkan dan kemudian mengembangkan usaha herbal hingga seperti sekarang menjadi home industeri.
“Semua ini berkat JOB Tomori,  berkat pelestarian dan pemanfaatan lingkungan disekitar rumah sehingga pendapatan keuangan keluarga saya bisa mencapai kurang lebih lima belas jutaan rupiah perbulan”, tuturnya. Nilai ekonomis yang digaisnya itu didapatkan dari produk obat-obatan dipasaran lokal dan pesanan luar daerah. 
(Foto: Berbagai jenis obat-obatan herbal racikan Herbalis Ibu Mariana yang merupakan salah satu warga binaan JOB Tomori di Desa Sinorang)
Jejak Mariana saat ini ternyata telah diikuti pula oleh dua orang rekan sekampungnya yakni, Ibu Nurlela dan Ibu Santy. Keduanya adalah sosok perempuan ulet yang juga merupakan Herbalis handal binaan JOB Tomori dalam memanfaatkan khasiat tumbuh-tumbuhan dilingkunganya guna dijadikan berbagai jenis obat-obatan.
Hasil karya mereka kini telah memasuki ambang kesuksesan didalam mendorong perekonomian berbasis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan.
Jika sekilas melihat terobosan ketiga Srikandi ini memang terlihat sederhana manakala membabdingkan dengan bentuk pelestarian lingkungan berskala besar, misalkan saja seperti, peremajaan dan pengembangan areal Mangrove yang sering dibahas aktifis lingkungan dan kemudian kiat itu difasilitasi oleh JOB Tomori.
Sekalipun demikian ketika mengkaji dan menelisik lebih jauh tentang asas manfaat dari terobosan mereka ini, ternyata tak kalah luar biasa dari peremajaan dan pengembangan penanaman Manggrove, sebab jika berbicara asas manfaat kiat yang dilakukan oleh Ibu Mariana, Nurlela dan Santy ini sudah memiliki bukti nyata yang sangat besar manfaatnya bagi kebutuhan kesehatan masyarakat secara umum. Sehingga tak heran dengan keberhasilan itu,  kini telah banyak memotifasi warga lainnya yang ada didalam maupun luar Sinorang untuk bangkit melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan.
“Dengan adanya respinsif publik ini, dalam waktu dekat kami berencana membentuk komunitas herbalis Batui Selatan”, ujar Santy.
Menurut herbalis ini, tugas perkumpulan tersebut nanti menjadi sebagai wadah untuk memberikan pembelajaran bagi siapa saja yang berminat menjadi herbalis handal, terangnya. 
( Foto: Herbalis Sinorang binaan JOB Tomori, Ibu Santi bersama karya rarcikan obat-obatan herbalnya)
Seperti diketahui bahwa semenjak era tahun sembilan puluhan, Batui Selatan telah dijadikan wiayah interfensi eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam Migas, dimana pada akhirnya kini telah menempatkan beberapa perusahaan gas disana.
Khusus untuk Batui Selatan sendiri merupakan salah satu sentra industri Hulu Migas, dimana desa Sinorang merupakan salah satu tempat yang menjadi bagian dari interfensi proyek tersebut.
Join Operating  Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi, merupakan kontraktor Migas yang dipercayakan pemerintah melakukan kegiatan hulu disana. 
( Foto: Kepala Urusan Pemerintahan dan Pembangunan Desa Sinorang,  Abidin.) 
“Awalnya masyarakat sanksi dengan keberadaan invesatasi ini, karena akan berdampak terhadap lingkungan atas kebocoran gas serta reaksi pencemaran lainnya”, ujar Kepala Urusan Pemerintahan dan Pembangunan Desa Sinorang, Abidin.
Namun seiring waktu berjalan dan hingga sekarang ini, kekuatiran warga itu beralih menjadi berkah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kenyamanan lingkungan, katanya.
Abidin menambahkan, konsepsi terkecil dari pemberdayaan masyarakat berbasiskan pelestarian lingkungan hidup yang dilakukan JOB Tomori selama ini, kini mulai menampak terlihat kemajuanya. Disamping pembinaan pembuatan obat-obatan hebal, kiat posotif lainnya juga terlihat pada keberhasilan pemanfaatan biogas dari kotoran hewan sapi untuk jadi bahan bakar kompor gas rumah tangga dan lampu penerangan sepertihalnya yang digeluti Pak Jufri.
( Ket Foto: Masyarakat kreatif binaan JOB, Pak Jufri tengah memperagakan proses pemanfaatan biogas dari kotoran ternak sapi menjadi gas bakar untuk kebutuhan memasak dan menyalakan lapu penerangan rumah)
Disamping itu katanya, ada juga berbagai bentuk upayah pemberdayaan lain semisal dorongan disektor kelautan khusunya nelayan serta terobosan sama lainnya. Kesemuanya itu berkaitan erat dengan program penguatan ekonomi kerakyatan berbasiskan lingkungan hidup.
“Ini berkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak, jadi sangat  bermanfaat”, tandas Abidin.* (@leindo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here