Mengusung Kearifan Lokal Melupakan Tokoh Dalam Sejarah

TIDAK – sedikit karya para tokoh lokal di Kabupaten Banggai yang memiliki kontribusi besar dalam mengaplikasikan ide-ide briliannya demi mengangkat harkat dan martabat terhadap entitas daerah, namun sayang itu semua seakan terlupakan begitu saja.

Padahal mengusung konsep kearifan lokal kini menjadi trending topoik untuk klaim kepedulian pemerintah dalam menjaga nilai-nilai potensi lokal di berbagai aspek kehidupan.

Bertalian dengan momentum kilas sejarah Kabupaten Banggai yang berapa hari belakang merayakan 68 tahun umur kelahiranya, ternyata belum sempat terbercik adanya nilai penghargaan berarti bagi mereka, khususnya para tokoh seniman lokal yang punya andil besar mengukir keberadaan entitas daerah ini.

Selayaknya ketika berbicara kearifan lokal, nilai-nilai seni adalah salah satu bagian dari aspek yang menggambarkan sebuah entitas lokal.

Seperti halnya yang belakangan ini viral di berbagai media berita online terkait sosok seniman di Luwuk pemilik Sanggar Kelana yang menciptakan Lambang Kabupaten Banggai dan kemudian terlupakan selama ini.

Adalah Madcholil pada momentum hari kelahiran Kabupaten Banggai namanya tak terdengar dalam sebutan tokoh penerima penghargaan atas karya besarnya itu yang telah menciptakan sebuah makna dari keberadaan entitas daerah ini.

Begitu pula hal sama terhadap seniman lain seperti Fredi Galuanta, dimana musisi senior Kota Luwuk ini merupakan aransemen musik sekaligus pencipta lirik lagu-lagu daerah Kabupaten Banggai yang hingga kini masih sering terngiang ditelinga dan juga merupakan bagian dari entitas dalam lingkup nilai-nilai kearifan lokal di Kabupaten Banggai.

Disamping itu ada juga tokoh seniman  teater lokal daerah, seperti, Yunan, Tapo, Kamin dll serta yang tak kalah penting adalah sosok budayawan sekaligus penulis sejarah Banggai yakin, Padiatu dan masih banyak lagi para tokoh lainnya di Kota Luwuk ini yang banyak memberi kontribusi mendorong keberadaan intitas daerah, dimana kini menjadi isu politik yang kerap di dengungkan untuk meraih pengakuan atas kepeduliannya dalam mendorong kearifan lokal.

Lantas dimana sebenarnya substansi yang dimaksud dalam konsep ini, ketika nilai-nilai para pelaku sejarah itu terabaikan? apakah memang konsep ini hanya berlaku pada lingkaran sewarna, atau memang buta sama sekali dalam memahami sejarah lokal sendiri ?

Makanya sekalipun itu dianggap hal yang terkecil namun sangat bermakna bagi masyarakat lokal, sebaiknya nilai-nilai itulah yang patut di pahami dan di apresiasi, jika memang serius menjalankan konsep kearifan lokal.

Sehingga apa yang di dengungkan dalam kepedulian mengangkat kearifan lokal, bisa terlihat lebih efektif dimata masyarakat secara umum, dan dengan sendirinya hal ini akan menjauhkan dari asumsi publik yang terkesan menjalankan konsep memandang sebelah mata ataupun berjalan menggunakan kacamata kuda.**

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button