Perkara Kakak dan Adik Berakhir Restorative Justice di Kejari Banggai

LUWUK – Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM-Pidum) yang diwakili oleh Direktur Tindak Pidana Terhadap Orang dan Harta Benda, Nanang Ibrahim Soleh, S.H.,M.H. menyetujui permohonan penghentian penuntutan terhadap tersangka IL yang disodorkan Penyidik Polres Banggai. Kasus ini resmi dihentikan Selasa (2/4/2024), berdasarkan keadilan restoratif (Restotative Justice) yang dimohonkan Kejaksaan Negeri (Kejari) Banggai.

Ekspose secara virtual tersebut dihadiri Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah, Kepala Kejaksaan Negeri Banggai dan masing-masing jajaran.

Perkara yang dihentikan penuntutannya berdasarkan Keadilan Restoratif atas nama tersangka IL dari Penyidik Polres Banggai

Perkara yang disangkakan ini melanggar pasal 351 ayat (1) KUHPidana yang mana dalam catatan Kasus Posisi, pada hari Selasa tanggal 12 Desember 2023 sekitar jam 15.30 wita di area persawahan Desa Toiba Kecamatan Bualemo Kabupaten Banggai, tersangka IL menegur korban HE agar tidak menggunakan alat mesin sabit padi (odong-odong) saat memanen padi. Teguran itu dimaksud agar lahan tidak rusak.

Korban NL tidak mendindahkan teguran itu malahan kakak dari tersangka IL ini meminta orang suruhanya HE untuk tetap melanjutkan pekerjaanya memanen padi dengan cara yang dilarang IL itu. Dengan hal demikian sehingga tersangka IL menjadi emosi seraya mengatakan kepada korban NL “hati busuk, munafik“.

Mendengar perkataan tersangka korban NL marah dan terjadi pertikaian duantara mereka. IL yang merasa tersinggung spontan memukul NL dengan tangan kananya mengenai tangan kiri NL hingga terjatuh ke tanah. Tidak hanya sampai disitu tersangka IL kembali memukul dengan menggunakan tangan kanan terkepal dan mengenai kepala NL, lalu menginjak paha kiri korban.

Alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberlakukan setelah dilakukan musyawarah di Aula Baharuddin Lopa Kejaksaan Negeri Banggai, 25 Maret 2024 yang kemudian dilaksanakan proses perdamaian.

Tersangka IL telah meminta maaf kepada saudaranya itu dan NL yang merupakan korban dalam perkara ini sudah memberikan permohonan maaf.

Dalam pertimbanganya tersangka belum pernah dihukum; tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana. Kemudian ancaman pidana denda atau penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun.

Dalam hal ini tersangka berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya sehingga proses perdamaian dilakukan secara sukarela melalui musyawarah.

Alasan lain bahwa tersangka merupakan tulang punggung keluarga yang bekerja sebagai petani/pekebun untuk memenuhi kebutuhan hidup isteri dan anaknya. Oleh masyarakat setempat merespon positif.

Dengan demikian Kepala Kejaksaan Negeri Banggai menyerahkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif Nomor : B-577/P.2.11/Eoh.2/04/2024tanggal 02 April 2024 kepada tersangka IL sebagai bentuk implementasi Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum.*/pr

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button