MEMASUKI momentum PSU Pilkada Banggai di Kecamatan Toili, doktrin Primordial (sifat kedaerahan-red) mengemuka.
Padahal di era demokrasi ini konsep pengkotak-kotakan masyarakat melalui isu primordial sudah tidak laku lagi digunakan. Apalagi tujuannya hanya mencari dukungan politik supaya memilih calon pemimpin, tentu hal itu sangat ironis.
Kemudian juga di tambah dengan isu pemekaran Daerah Otonomi Baru setingkat kabupaten atau kota, bagi mereka yang paham betul menganggap strategi itu, diduga hanya konsep akal-akalan untuk menggalang dukungan. Ini sama halnya dengan Sultim yang setiap ada momentum politik isu itu digulirkan dan setelah itu hilang lagi.
karena bagi mereka yang rasional berfikir, menganggap bahwa yang berpeluang bisa melakukan terobosan pemekaran itu tentulah hanya figur calon pemimpin Banggai yang punya kedekatan khusus dengan pemimpin negara.
Terlepas dari itu semua, salah seorang tokoh masyarakat Toili sebut saja Mas Ngatimin. Sosok pria paruh baya yang low profil, kepada media ini mengubar cerita tentang siapa sebenarnya yang punya andil besar dalam membangun wilayah transmigrasi itu.
“Dulu sejak tahun tujuh puluhan hingga delapan puluhan dan hingga sekarang ini mas, nama Kurnia dan Sentral Sulawesi itu yang saya tau sudah banyak berbuat untuk kemajuan di Toili”, ujar le’ ngat sapaan akrab sumber.
Menurutnya kedua nama perusahaan ini sangat di ingat betul oleh para petua – petua di Kecamatan Toili, baik itu kalangan si Mbah, para Ninik, maupun para Nanang. Mereka semua ini adalah sapaan akrab orang yang dituakan masyarakat Jawa, Lombok dan Bali yang berdiam di wilayah transmigrasi itu.
“Kalau saya sendiri kira-kira masuk generasi ke dua di sini, mas”, terang Ngatimin.
Dijelaskannya, Kurnia yang merupakan perusahaan milik Alm.H. Murad Husain itu telah banyak berpartisipasi membangun infrastruktur di Toili.
“Hampir semua jalan dan jembatan besar dan kecil serta bangunan gedung milik publik sampai pada area irigasi persawahan di Toili ini, bekas tangan perusahaan Kurnia”, terang sumber.
Kalau khusus Toili sekarang yang masih membekas yakni wilayah Kandang Jonga atau yang sekarang namanya Rusa Kencana.
“Kalau tidak salah dulu itu mulai dari Banpres yang sekarang Cendana Pura dan Cendana hingga Rusa Kencana dan unit 11 Singkoyo jalan dan jembatan ya itu bekas proyek yang di bangun Kurnia”, bebernya.
Mulai dari penataan jalan, pasar unit 10 yang sebagiannya sekarang ini tiba-tiba sudah jadi milik pribadi salah seorang oknum, entah itu di dapat dari mana, Wallahu alam. Sebab setau sumber, pasar unit 10 itu sejatinya adalah aset transmigrasi yang dibangun pemerintah.
Kemudian katanya sarana Puskesmas, dll, kalau tidak salah yang mengerjakan semua itu Kurnia, pada saat transmigrasi belum berhasil seperti sekarang ini.
Menurut dia memang semua proyek itu milik pemerintah tapi Kurnia yang dipercayakan membangun dan melibatkan orang -orang trans di Toili.
“Pada saat itu situasi ekonomi kami sulit masih serba kesulitan mas, maklum trasmigran baru, tapi dengan adanya lapangan pekerjaan dari Kurnia hampir seluruh warga Toili mendapatkan asas manfaatnya”, terang Ngat.
Lanjut katanya, kenapa unit 7 itu namanya Sentral Sari dan Sentral Timur? Itu dulu are proyek Sentral Sulawesi yang membangun di situ.
Lantas kenapa sekarang ini sudah ada jalan jalur dua yang masuk ke arah unit 7. Itu karena Kurnia yang bangun, hingga kini jalur dua itu menjadi icon kebanggaan warga Toili. Begitu pula pasar di unit 12.
“Haa yang satunya lagi siapa yang berperan untuk membuat akses jalan dari unit 12 menuju Tolisu hingga Toili Barat, itu semua dibuat oleh Kurnia yang mendapat kepercayaan pemerintah”, jelasnya.
Sama halnya dengan jalan di tanah Abang dan masih banyak lainnya yang anak-anak sekarang tidak tau historisnya, ungkapnya.
Maka dari itu jika ada isu yang mengkotak-kotakan masyarakat Toili dengan seruan sikap Primordial, masyarakat Toili pasti tak akan terpengaruh, karena hingga kini Toili itu adalah masyarakat Banggai yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan kejujuran alias tidak ngapusi.
“Intinya kami tau siapa yang telah banyak berbuat untuk masyarakat di Toili. Kalau saya cuma menyarankan, bagi mereka yang tidak tau sejarah Toili hingga maju seperti sekarang ini, tanyakan saja sama Mbah atau Eyang mereka, atau Ninik maupun Nanang, siapa sebenarnya yang punya peran penting memajukan Toili dari awal merintis transmigrasi hingga berhasil seperti sekarang ini dan yakin saya pasti jawabannya kalau bukan Kurnia pasti Sentral Sulawesi yang saat itu di kendalikan oleh Tomundo Banggai yang kini telah memberikan dukungan penuh pada Paslon 3 Sulianti Murad dan Samsul Bahri Mang untuk menjadi pemimpin daerah ini.
“Jadi dari sekarang kita harus menghormati nilai-nilai kebaikan dari para perintis wilayah transmigrasi ini, sehingga Toili bisa jadi seperti ini. Jangan mentang-mentang sudah ada perusahaan migas kemudian semudah itu melupakan nilai-nilai sejarah kalangan yang sudah berbuat banyak untuk masyarakat Toili, itu ibarat pepatah mengatakan, kacang lupa akan kulitnya”, demikian sumber seraya mengingatkan.*